Mahasiswa Indonesia : Sebuah Ekspektasi

Kreatif & Inovatif, itulah 2 kata yang banyak disematkan kepada Mahasiswa. Mahasiswa dianggap sebagai tulang punggung bangsa masa depan, tak heran banyak pihak yang sangat menaruh harapan pada mahasiswa ini. Kesannya, menyandang status mahasiswa itu sama dengan meminggul beban yang berat, bagaimana tidak?Sudah banyak diharapkan oleh orang-orang, tentu terdapat konsekuensi-konsekuensi yang suka atau tidak harus dihadapi. Saat seorang mahasiwa menorehkan prestasi, semua pihak langsung memuji dan mengangkat tinggi arti sebuah mahasiswa, namun saat mahasiswa monerehkan keburukan, langsung saja tanpa ba-bi-bu ,pihak yang sebelumnya mendukung akan langsung berbalik mencerca dengan alasan “mahasiswa harus memberikan contoh baik, bukannya memberikan contoh buruk”. Itulah secara singkat menggambarkan bagaimana mahasiswa diberi ekspektasi yang tinggi di negeri ini, terutama setelah masa reformasi (1998) yang saat itu mahasiswa menjadi poros utama dalam usaha penggulingan pemerintahan.

Nah pertanyaannya sekarang, apa hubungannya mahasiswa dengan 2 kata : kreatif & inovatif, dan mengapa pula saya membahas mengenai ekspektasi terhadap mahasiswa?Semua itu TENTU ADA hubungannya ,para pembaca yang terhormat.

Kreativitas & Inovasi Mahasiswa

Untuk menjawab dan membalas segala ekspektasi yang nan besar itu, mahasiwa patut atau malah wajib untuk mempunyai modal dasar yang akan digunakan. Modal itu dinamakan kreativitas & inovasi. Para khalayak yang banyak  bukan tanpa alasan menaruh harapan pada mahasiswa, karena mereka menganggap di tahap mahasiswa ini dari ukuran umur, mental, psikologis, serta ide berada dalam ukuran yang sudah cukup matang. Sehingga, dibandingkan dengan level SMU yang masih mentah, ataupun dengan level diatasnya, yaitu orang-orang yang sudah memasuki dunia kerja yang sudah tidak matang/mentah, mahasiswa menjadi posisi yang paling ideal dalam ukuran-ukuran tersebut.Dikatakan “cukup” karena masih terdapat peluang untuk berkembang yang berdasarkan idealisme masing-masing, tidak tergantung pada anggapan orang lain. Mahasiswa sendiri pun secara otomatis akan mencari dan mendapatkan “sesuatu” untuk mematangkan” proses tersebut.

Namun, perlu diingat bahwa proses tersebut tetap harus ditunjang oleh “sesuatu” yang dapat mewadahinya, “sesuatu” ini pula yang membuat kata “mahasiswa” ini ada, yaitu Perguruan Tinggi. Apapun bentuknya , negeri, swasta, universitas, institut, atau pun lainnya PT mempunyai peran yang sangat penting untuk menunjang dan memberi peluang bagi mahasiswa untuk mencapai tujuan mereka. Pendidikan di Perguruan Tinggi menggerakkan anak didiknya tidak hanya berfokus pada teori semata namun juga memberikan sebuah simulasi praktek yang berhubungan dengan keprofesian masing-masing. Saya ambil contoh misalnya jurusan manajemen. Dimanapun PT yang terdapat jurusan manajemen pasti akan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan bagaimanakah manajemen itu sesungguhnya. Contoh lainnya seperti jurusan Biologi pun sama, mereka membuat eksperimen sendiri berdasarkan teori-teori yang didapatkan. Intinya tetep sama yaitu : simulasi keprofesian. Mengapa saya anggap simulasi keprofesian ini penting?Karena dengan mahasiswa mengalami simulasi, secara otomatis hal tersebut akan tesimpan didalam memori mereka dan dengan proses yang berulang-ulang, suatu saat mereka akan menemukan suatu ide atau pemikiran yang berhubungan dengan hal tersebut. Ide inilah pada akhirnya suatu kreatifitas & inovasi bisa muncul.

Selain dari keprofesian masing-masing, masih terdapat banyak kegiatan lain yang dapat menjadi pemicu ide-ide. Mulai dari Unit Kegiatan Mahasiswa, dimana banyak bertemu mahasiswa lintas profesi yang semakin membuka wawasan baru, sama seperti terdapat acara kampus yang banyak mempertemukan berbagai macam jenis mahasiswa. Ada pula lomba-lomba yang mengasah mulai dari ketrampilan sampai ke kreativitas mahasiswa. Bahkan, jangan heran banyak mahasiswa yang menemukan pemikiran-pemikiran ketika mereka sedang hanya jalan-jalan atau melamun. Disitulah bagaimana kekuatan mahasiswa yang ditopang oleh lingkungannya, sehingga sangat memberi banyak potensi dan kesempatan bagi mereka untuk terus berpikir dan berkreasi.

Easier Said than Done

Namun, apa benar suatu kreativitas & inovasi cukup dengan melakukan hal-hal yang disebutkan diatas?Oh, jelas tidak pembaca yang terhormat. Proses kreatifitas & inovasi tidak semudah yang kita bayangkan. Percayalah, semua orang di dunia ini saya jamin semua orang pernah melakukan hal kreatif dalam hidupnya. Memilih nama anak?Memilih jalan?Memilih gadget?Memilih rumah?Memasak sarapan?Membuat PR?

Hal-hal tersebut pernah kita lakukan bukan?Misalnya saat memilih nama anak jika bukan berdasarkan kreatifitas, nama anak di dunia ini mungkin akan sama semua, kemudian memasak sarapan jika tidak kreatif jangan-jangan tiap hari kita makan hanya dengan nasi dan telur selalu, atau juga dalam membuat PR tanpa cara kreatif, dijamin akan bosan mengerjakannya, dan masih banyak lagi contoh-contohnya. Bisa dibilang bukan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita dihadapkan dengan kreativitas & inovasi?Hanya saja kreatifitas ini sangatlah simple, dan masih terdapat tahapan-tahapan selanjutnya untuk dikatakan sebagai kreatifitas & inovasi yang sesungguhnya.

Dalam kreatifitas terdapat 5 level yaitu Existential, Communicational, Instrumental, Orientational, dan Innovational. Tahapan paling rendah dan paling awal adalah Existensial . Contoh sehari-hari yang disebutkan diatas termasuk kategori kreativitas yang paling rendah, ataupun jika sudah menggabungkan beberapa proses level kreativitasnya bisa mencapai Communicational. Level Innovational, yaitu tingkatan yang paling tinggi ini adalah sudah mencapai suatu tahap dimana kreativitas seseorang sudah sampai menciptakan produk baru yang merubah peradaban ataupun kehidupan seseorang. Contoh tergampang dari level ini adalah penemu Internet, karena dengan ditemukannya internet cara berkomunikasi manusia pun berubah sehingga dapat dikatakan merubah peradaban.

Dalam inovasi pun terdapat tingkatan. Inovasi disini memang lebih mengenai hal-hal yang berbau teknologi, karena seluruh inovasi tidak terlepas dari apa yang disebut dengan teknologi tersebut. Walaupun tidak secara eksplisit tingkatannya tertera, namun tahapan paling awal dalam suatu inovasi adalah “inovasi mentah”. Dalam tingkatan ini inovasi hanyalah sekedar inovasi, dengan kata lain ditemukan barang baru namun belum jelas apa manfaatnya, inilah yang dinamakan dengan “inovasi mentah”. Sampai pada tingkatan tertinggi, inovasi akan menjadi benar-benar inovasi apabila sudah menjadi “barang jadi” baik berupa produk atau pun jasa , yang terpenting adalah bermanfaat bagi  manusia.

Sehingga, kreativitas & inovasi selalu mempunyai ikatan yang kuat satu dengan yang lainnya. Suatu inovasi tidak mungkin tercipta jika tidak adanya ide-ide kreatif yang memunculkan awal dari suatu inovasi. Kreatifitas pun sama,kreatif tanpa menjadi inovasi hanyalah akan menjadi manfaat bagi diri sendiri dan tidak ada gunanya bagi orang lain.

Sebuah Kenyataan

Saya kembali lagi kepada bahasan mahasiswa. Setelah penjelasan di atas, sudah semakin jelas bagaimana peran mahasiswa yang sesungguhnya. Di dalam PT  mahasiswa akan melalui berbagai tahapan dalam upaya mematangkan pemikiran-pemikiran mereka, yang intinya tetap mengenai : kreativitas & inovasi. Tetapi, sebagai mahasiswa tahapan yang mereka lalui hanyalah baru sebagai permulaan. Pemikiran-pemikiran yang telah ditanamkan harus bisa diteruskan bahkan sampai mereka sudah tidak menjadi mahasiswa lagi, karena suatu kreatifitas untuk menjadi sebuah inovasi membutuhkan jangka waktu yang tidak terbatas sampai kapanpun. Hal ini tergantung dari bagaimana mereka menyikapi masalah-masalah yang timbul selama proses tersebut terjadi.

Masalah umum yang terjadi saya ambil dari buku The World is Flat oleh Thomas L. Friedman. Secara garis besar buku ini menceritakan bagaimana perkembangan teknologi yang pesat mengubah dunia secara menyeluruh. Arus perputaran yang demikian terbuka dan cepat membuat seakan-akan setiap proses di bumi melalui jalur horizontal, tanpa tingkatan. Inilah gambaran singkat dari pengertian flat (datar) dibuku tersebut. Nah, kemudian apa masalahnya?Bukankah dengan ke-flat-an dunia akan menjadi keuntungan bagi semua orang?Jawabannya : BELUM TENTU

Justru, hal tersebut dapat berpotensi menjadi hambatan terbesar dalam upaya kreativitas & inovasi mahasiswa.

Pemalas . Dengan segala tersedianya informasi apapun dengan sekali tekan atau dengan menulis kata kuncinya, semua akan tersedia dengan mudahnya. Namun, bagi sebagian orang hal ini digunakan hanya sebagai Copy + Paste saja tanpa memahami kandungan asli tulisannya. Jika sesekali dilakukan tentu tidak masalah, namun jika sudah menjadi kebiasaan hal ini akan membuat pemikiran kita sempit dan ide-ide kreatif kita tidak bisa berkembang ke arah yang semestinya.

Persaingan . Dengan bisa ditemukannya hal-hal yang baru dengan mudah dari berbagai negara, seharusnya ini menjadi peluang kita dalam mencari ide-ide produk atau jasa yang inovatif. Sayangnya, dengan keterbukaan tersebut, semua orang mempunyai peluang yang sama untuk berinovasi. Bagi orang yang tidak kompetitif, persaingan ini akan membuat mereka putus asa, dan akibatnya pun inovasinya tidak bisa dikembangkan dengan alasan “sudah ada yang mulai duluan” .

Takut . Kreativitas & Inovasi akan bisa berhasil jika ada keinginan untuk melakukannya, namun tidak selamanya ide-ide tersebut dapat berhasil atau pun dapat diterima khalayak banyak. Seseorang kadang menjadi teralu concern dengan  ketidak berhasilan suatu proses kreatif & inovasi, akibatnya mereka menjadi takut untuk mencoba padahal mereka sudah mempunyai pemikiran yang brilian. Hanya saja karena melihat lingkungan yang demikian, proses kreatif yang mempunyai potensi menjadi terhambat.

3 poin masalah diatas merupakan realita apa yang terjadi dengan keadaan mahasiswa sekarang. Potensi untuk mencapai kreativitas & inovasi tingkatan paling atas sudah ada, namun Pemalas, Persaingan, dan Takut menjadi tembok tinggi yang terus mereka ratapi, bukannya berusaha bagaimana untuk melewati tembok tersebut.

Esok yang Masih  Cerah

Setiap masalah pasti akan selalu ada solusinya, tidak terkecuali masalah yang menghambat perkembangan kreativitas & inovasi dalam diri mahasiswa. Solusi utamanya yaitu :

“PERCAYA DIRI”

Terlihat mudah bukan?Namun, memang inilah yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di atas. Masalah-masalah penghambat kreativitas & inovasi semuanya muncul dari mindset & mentalitas , sehingga solusinya pun kembali kepada apa yang kita pikirkan. Percaya diri berarti  yakin atas kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri tidak peduli atas gangguan yang terjadi baik dari internal diri atau eksternal. Kreativitas & Inovasi semuanya bersumber dari pikiran kita, semua orang memilikinya tanpa terkecuali. Tetapi, tidak seluruhnya bisa melaksanakannya, hanya dalam sebatas pemikiran saja, sebabnya pun seperti 3 poin yang diatas. Sekarang apabila seseorang percaya diri, ia tidak akan menjadikan persaingan sebagai hambatan, ia malah berpikir bahwa persaingan membuat diri semakin termotivasi untuk berkreasi & berinovasi lebih baik. Ia pun tidak menjadikan rasa takut menjadi sebuah musibah, ia menjadikan rasa takut menjadi suatu pemikiran agar lebih waspada dan teliti dan menelurkan ide-ide. Ia pula membuat segala ketersedian informasi tidak menjadi seorang pemalas, namun ia buat menjadi sebuah kesempatan untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya agar bisa dikembangkan menuju sebuah inovasi.

Inilah hal yang harus diingat oleh seluruh orang, terutama mahasiswa yang segala ide briliannya ditunggu oleh seluruh masyarakat Indonesia agar kehidupan bangsa pun akan menjadi lebih baik di masa depan.

sumber dan referensi :

http://romisatriawahono.net/2007/02/12/the-world-is-flat-10-kekuatan-yang-mendatarkan-dunia/

http://lifeisabook51.blogspot.com/2011/06/kolaborasi-inovasi-dan-kreativitas.html

http://venivexia.blogspot.com/2011/02/inovasi-keunggulan-bersaing.html

http://viialovesiing.blogspot.com/2011_05_01_archive.html